Pertanyaan polos Aisyah saat ada teman baru yang bergabung di grup mentoringnya.
PRISMA Al Ikhlas dan kelompok-kelompok kecilnya. PRISMA adalah sebuah organisasi remaja islam yang berada dilingkungan sekitar RW di mana masjid Al Ikhlas berdiri. Dalam organisasi yang terbentuk sejak 3 tahun lalu ini, ada sebuah program pembinaan yang disebut mentoring, yakni para anggota PRSIMA dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk kemudian dibina oleh seorang mentor.
Minggu malam, salahsatu kelompok duduk bersama dalam kegiatan rutin mentoring. Seperti biasa sebelum dimulai, semua anggota memulainya dengan bercanda dan curhat. Malam itu, mentor mengajak serta sepupunya -sedang berkunjung dan menginap di rumahnya- untuk mentoring. Tidak ada yang istimewa dari anak yang baru pertama kali dilihat oleh anggota mentoring ini, namun anak yang terlihat santun dengan pakaian yang menutup aurat ini, sebuta saja Fulanah memperkenalkan diri sebagai tamu dari kota metropolitan Jakarta, membuat para anggota mentoring yang lain dan Aisyah -salah satu anggota lama- penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh. Mulai dari menanyakan alamat facebook, twitter, hubungannya dengan sang mentor, hingga kehidupan pribadinya.
Aisyah, yang merupakan seorang menti yang lahir dari keluarga Ikhwan ini, dengan mimik wajah yang penasaran bertanya kepada Fulanah "Kakak sekolahnya pesantren ya?"
Fulanah pun menjawabnya enteng "Emh..Bukan.." melempar senyum
"SDIT ya? (maksudnya SMPIT. Yang mau ditanyakan adalah SMP Islam atau Negri)"
Karena bingung dengan pertanyaan Aisyah, Fulanah pun menjawab seadanya "saya di sekolah swasta."
"SDIT berarti. Sudah hafal berapa juz?" Sambut Aisyah polos
"Hah?" terkejut dan bengong
Aisyah pun mengulangi pertanyaannya dengan wajah yang antusias "Sudah hafal al qur'an berapa juz?"
"Hehe.. berapa yah, berapa ajalah.." sambil melirik kakak sepupunya sambil tertawa malu
Mentor Aisyah yang juga kakak sepupu dari Fulanah, melihat sikap kedua adiknya yang lucu itu hanya tertawa dan berdoa, "Ya Allah, terimakasih Engkau izinkan aku bertemu dengan Aisyah untuk menjadi guru kecilku, dan Engkau titipkan Fulanah padaku hari ini, semoga Engkau rahmati kami dan limpahkan hidayah kepada kami melalui perjumpaan ini. Aamiin.."
Dari kisah di atas, ada beberapa hikmah yang dapat kita petik
1. Sikap husnuzon Aisyah, bisa kita tebak, bagaimana Aisyah menjalani hari-harinya. Berlomba-lomba dalam kebaikan dengan para penghafal qur'an.
2. Sikap dewasa Aisyah yang tidak menyudutkan Fulanah dengan pertanyaan yang sama, seolah dia tau bahwa Fulanah bukan penghafal Qur'an, karena itu akan membuat Fulanah tersinggung.
3. Contoh nyata anak-anak yang dibesarkan di lingkungan yang berbeda, akan menghasilkan anak yang berbeda pula.
4. Bahwa iman tak dapat diwariskan meski berasal dari satu darah.
5. Alasan bagi kita para orangtua untuk mendidik anak-anak kita dengan al Qur'an dan Sunnah. Aisyah dengan kepolosan dan kedewasaannya tentu tidak didapat dengan instan.
Sederhana tapi kutipan(jika tidak bisa disebut kisah) ini inspiratif bagi penulis. Sekecil apapun, semoga ada manfaatnya bagi pembaca.
23/9/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar