Kamis, 13 Oktober 2016

Bahu mu Harus Lebih Kuat

Sekarang... mau cerita pada siapa.. 
Mau berbagi dengan siapa.. 
Mau meminjam bahu siapa..
Dirimu tidak memiliki siapa2..
Orang terbiasa melihatmu kuat.. 
Orang terbiasa berbagi dengan mu..
Orang terbiasa bersandar padamu..
Selamat menunjang dirimu sendiri.. 
Allah mu saja.. Allah mu saja cukup untuk mu.
Sayang ku..

Senin, 19 September 2016

Bersiap dan melangkahlah

Seorang sahabat mengirimiku sebuah link yang berisi kisah keistimewaan sepasang calon mempelai. Karena keistinewaan ini, terinspirasilah begitu banyak orang.
Tak terkecuali sahabatku, kemudian aku juga. Hehe..
Ada perasaan bahagia dan bangga bisa mendengar kisah sosok sang calon pengantin yang notabene beberapa tulisannya telah di tangan. Ada juga perasaan iri terhadap betap indah pertemuan kawan kita ini.
Saling sahut karya yang akhirnya menghubungkan tali kasih mereka berdua.
Sampai tersirat tanya dalam hati, kapan kiranya hati 'kan berlabuh pada dermaga miliknya sendiri.
Jangankan berlabuh, berlayar saja belum.
Adakah yang salah pada tekad kita, sahabat. Jangan cemaskan persiapan ini lagi. Saat usia dan peluang itu telah menjadi tanda kesiapan. Saat Allah menghendaki, maka persiapan bukan lagi semata urusan diri kita sendiri. Melangkah sajalah dulu..

Kamis, 30 Juli 2015

Lirih Asma’




Dalam lirih ada duka
Dalam lirih ada suka
Dalam lirih ada kata
Dalam lirih ada makna

Lihatlah sesuatu menari di pikiranku.
Alasan tulisan yang tidak bergairah ini pun mengarah pada kegundahan.
Tentang cinta dan harapan semu yang membersamainya.
Ada emosi yang tertahan dalam dada.
Usaha untuk menggenggam kasih Allaah saja.
Menyerahkan seluruh harapan yang luas tak berbatas hanya kepadaNya.
Bila diingat siapa dan apalah diri ini
Patutnya jiwa memurni kembali

Hati, bersabarlah menanti
Simaklah dan nikmati
Sungguh, rekan terbaik adalah teman sejati
Sosok penerang yang paling berarti
Seorang pemimpin tanpa cemeti
Teman terhebat sampai mati 

Rabu, 16 Oktober 2013

renungan

Ku cari dan ku perhatikan dengan sangat tenang
yang terdengar hanya denyut jantungku senidiri
pekak, semakin kudengar semakin mencekam..
Detaknya membawaku pergi
ke alam yang entah apa dan di mana
semakin keras, semakin membuat takut nuraniku
siapa? dimana? bagaimana atau apa?
aku terus bertanya pertanyaan yang memecah airmataku
tak ada batas waktu di akhirat?
gila.. jika aku teruskan akan membuatku gila
ah aku menangis saja pada Nya
Allah pencipta bumi dan langit
Ia pula ciptakan kesunyian yang bising ini
aku diciptakan Nya, menjadi hamba kepada Nya
aku hidup dan mati atas izin Nya
tiada satupun aktivitas yang baik kulakukan
selain mengesakan Nya.. hanya Dia..
namun, percayakah aku?
niscaya orang-orang yang beriman
mengetahui bahwa yang benar itu dari Tuhannya..
masih dalam keheningan
semakin tak peduli aku pada airmata ini
yang membasahi wajah sampai dagu dan jatuh ke tanah
keras-keras dalam hatiku hingga terucap di lisan ku..
tak tahan lagi.. aku takut sekali
tersungkurlah raga, bersujud pada Nya
ampuni hamba ya Rabb..
jangan sesatkan hamba..

Kamis, 03 Oktober 2013

coretan pedas

Bismillah.. Semoga Ia izinkan mu membaca ini

Untuk saudara - saudaraku yang teramat aku sayang,
ingatkah engkau ketika pertama kali melihatku bergabung dalam dakwah ini..
ingatkah engkau ketika pertama kali menyadari kehadiranku bak bala bantuan untukmu..
ingatkah engkau ketika pertama kali mengagumi diriku yang tidak seburuk hari ini..
ingatkah engkau semua pujian manis, yang sebenarnya begitu menyinggung bagiku..?

Katamu begini dan begitu tentang ku..
katamu aku mampu melawan ketidakberdayaanku
katamu aku bahkan bisa memotivasi
katamu aku hanya perlu percaya diri
percaya pada diri siapa?
tidak ada yang dapat ku percaya dari diriku

Ada kesan yang tersimpan rapih di benakku..
ingat tidak, regenerasi dakwah ini, katamu hanya aku yang kau percaya..
tapi tahu kah kau, itu meningatkan pada masa dakwahku yang gagal..
karena ketakutanku lebih besar dari yang terlihat
tak apa bila aku ulang lagi langkah, asal bersama mu..

kini, telah ada yang menurut kita dia pantas dipercaya
menurutmu ia lebih segalanya dariku, aku setuju..
mengalahkan ku, mengapa harus merasa kalah?
tampilnya ia justru kebahagiaan untukku..
Segala puji bagi Allah, yang menjadikanku pijakan..

Ukhtiku.. Aku lihat bagaimana engkau tumbuh..
Meskipun dinding pemisah antara kita begitu kuat
aku yakin, akan ada masa kita saling terbuka..
ingatkah kau pernah menyinggung menyebutku selalu senyum?
ya itu dirimu..

kini engkau pemain banyak peran..
menurutku itu caramu menyambut ilmu
kau adalah pembelajar sejati..
bisakah kita terus saling mencari, aku tak tahu
Allahu a'lam

Kau yang pernah asing namun berada dekat denganku
Saat itu kita mulai tarbiyah islam bersama..
hanya sebentar, kita berpisah.. kemudian bertemu lagi di jalan dakwah ini
bagiku, kau kakak saat yang lain tak peduli
bagiku, tak ada yang tulus sepertimu

ingatkah, suatu ketika seseorang yang merepotkan kita
semua orang menaruh kesal padanya, namun itu tak menjebak prasangka baikmu
kau memang yang terbaik..
makanya, betapa ingin ku perkenalkan engkau pada guruku
agar sempurna akhlaq mu terarah oleh syari'at

Sadar waktu tak banyak lagi tersisa untuk kita bersama,
maka ku harap berikanlah maaf atas kebodohan dan kekurangan ku
yang selama ini sangat tidak kita inginkan..

Saudaraku..
uhibbukum fillah

Jumat, 27 September 2013

27/09/13



Waktu demi waktu telah aku lalui..
Setiap hari, tak satu detik pun percuma bagiku
Pernah aku berteriak merengek pada Mu

Ketika nalarku menolak dirinya sendiri
Malu untuk ku ulangi kisahku sendiri
Meski itu pada Mu yang tiada rahasia dapat ku sembunyikan
Belum lagi ku bicara mengakui cacat perangaiku,
Airmata justru deras mengarus..
Menyalahkan Mu, apa boleh buat? aku malu

Ketika tak sadar mungkin aku mencari tandingan Mu
Kemana lagi ku harus meminta pertolongan
Jeli mataku, ku pasang telingaku dalam memburu dunia
Belum lagi ku dapat apa yang ku cari
Tubuh ini justru memaksaku meminta sepenuh hati kepada Mu
Hingga tiada ruang lagi di relung jiwaku, hanya Engkau..

Ketika kesusahan hampir merusak rasioku
Timbul kerinduan dalam kepalaku, tentang Engkau
Oh.. Engkau yang Maha Penyayang
Belum lagi ku tergelung ombak kehancuran
Rahmat Mu justru hadir, memaksaku ikhlas menerima diriku
Hingga senyum itu berseru takbir kepada Mu..

Setiap waktu berharga bagiku,                 
setiap hari adalah ilmu untukku
setiap ilmu adalah bersama Mu

Allaahu akbar... 

Senin, 23 September 2013

Cerita seputar mentoring PRISMA

Pertanyaan polos Aisyah saat ada teman baru yang bergabung di grup mentoringnya.

PRISMA Al Ikhlas dan kelompok-kelompok kecilnya. PRISMA adalah sebuah organisasi remaja islam yang berada dilingkungan sekitar RW di mana masjid Al Ikhlas berdiri. Dalam organisasi yang terbentuk sejak 3 tahun lalu ini, ada sebuah program pembinaan yang disebut mentoring, yakni para anggota PRSIMA dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk kemudian dibina oleh seorang mentor.

Minggu malam, salahsatu kelompok duduk bersama dalam kegiatan rutin mentoring. Seperti biasa sebelum dimulai, semua anggota memulainya dengan bercanda dan curhat. Malam itu, mentor mengajak serta sepupunya -sedang berkunjung dan menginap di rumahnya- untuk mentoring. Tidak ada yang istimewa dari anak yang baru pertama kali dilihat oleh anggota mentoring ini, namun anak yang terlihat santun dengan pakaian yang menutup aurat ini, sebuta saja Fulanah memperkenalkan diri sebagai tamu dari kota metropolitan Jakarta, membuat para anggota mentoring yang lain dan Aisyah -salah satu anggota lama- penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh. Mulai dari menanyakan alamat facebook, twitter, hubungannya dengan sang mentor, hingga kehidupan pribadinya.

Aisyah, yang merupakan seorang menti yang lahir dari keluarga Ikhwan ini, dengan mimik wajah yang penasaran bertanya kepada Fulanah "Kakak sekolahnya pesantren ya?"

Fulanah pun menjawabnya enteng "Emh..Bukan.." melempar senyum

"SDIT ya? (maksudnya SMPIT. Yang mau ditanyakan adalah SMP Islam atau Negri)"

Karena bingung dengan pertanyaan Aisyah, Fulanah pun menjawab seadanya "saya di sekolah swasta."

"SDIT berarti. Sudah hafal berapa juz?" Sambut Aisyah polos

"Hah?" terkejut dan bengong

Aisyah pun mengulangi pertanyaannya dengan wajah yang antusias "Sudah hafal al qur'an berapa juz?"

"Hehe.. berapa yah, berapa ajalah.." sambil melirik kakak sepupunya sambil tertawa malu

Mentor Aisyah yang juga kakak sepupu dari Fulanah, melihat sikap kedua adiknya yang lucu itu hanya tertawa dan berdoa, "Ya Allah, terimakasih Engkau izinkan aku bertemu dengan Aisyah untuk menjadi guru kecilku, dan Engkau titipkan Fulanah padaku hari ini, semoga Engkau rahmati kami dan limpahkan hidayah kepada kami melalui perjumpaan ini. Aamiin.."




Dari kisah di atas, ada beberapa hikmah yang dapat kita petik

1. Sikap husnuzon Aisyah, bisa kita tebak, bagaimana Aisyah menjalani hari-harinya. Berlomba-lomba dalam kebaikan dengan para penghafal qur'an.

2. Sikap dewasa Aisyah yang tidak menyudutkan Fulanah dengan pertanyaan yang sama, seolah dia tau bahwa Fulanah bukan penghafal Qur'an, karena itu akan membuat Fulanah tersinggung.

3. Contoh nyata anak-anak yang dibesarkan di lingkungan yang berbeda, akan menghasilkan anak yang berbeda pula.

4. Bahwa iman tak dapat diwariskan meski berasal dari satu darah.

5. Alasan bagi kita para orangtua untuk mendidik anak-anak kita dengan al Qur'an dan Sunnah. Aisyah dengan kepolosan dan kedewasaannya tentu tidak didapat dengan instan.

Sederhana tapi kutipan(jika tidak bisa disebut kisah) ini inspiratif bagi penulis. Sekecil apapun, semoga ada manfaatnya bagi pembaca.

23/9/13