Senin, 09 September 2013

Dinamika Jihad di PRISMA "Ketika amanah menjadi tali satu-satunya"

"Wajihah (tempat aktifis menjabat) hanya wasilah (alat) dalam dakwah, bukan kiblat atau tujuan." Nasihat berharga dari seorang temanku ini mengantarku pada pemikiran yang lebih jauh tentang dakwah. Dengan mengembalikan posisinya-dakwah-pada tempat yang seharusnya. Bahwa dakwah adalah tentang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, bahwa dakwah adalah attoriq ila ttaqwa, bahwa dakwah adalah kesungguhan memperjuangkan kebenaran, bahwa dakwah adalah keteguhan menegakkan kalimat LAA ILAHA ILLALLAH.

Bertahun sudah kita lalui banyak peristiwa bersama di PRISMA, dengan macam-macam perasaan mewarnai kisahnya. Hingga terucap kata 'keluarga' di antara kita. Canda tawa dan gelisah kita rasakan bersama. Kenangan apapun, bagiku berkesan. Kadang kita bersikap manis, kadang menyebalkan, kadang saling menghujat tanpa sadar. Saking sayangnya (mungkin) sampai harus ada yang menangis karena di-bully atau karena sikap-sikap yang kita sama ratakan (tanpa pandang gender). Yaa itulah keluarga. Hehehe..

Keluarga yang seperti teman atau teman yang seperti keluarga. Teman yang seperti keluarga biasanya selalu ada untuk temannya, mengerti dan memahami karakter temannya, berusaha menjadikan keluarganya (sorry, temannya) lebih baik, menjadi rumah yang dengannya kita merasa nyaman ketika pulang. Atau keluarga yang seperti teman, layaknya teman, menemani, mendengarkan, dan peduli. Itu ada dalam ukhuwah kita. Ukhuwah yang sempurna..

Saat yang paling ku hindari, adalah ketika amanah menjadi tali satu-satunya untuk kita berjuang bersama. Di mana ukhuwah seperti menghilang. Jika memburu cinta level tertinggi -cinta Allah dan Rosul-Nya, dan jihad fisabilillah- adalah tujuan, maka ukhuwah adalah bahan bakarnya, dan kitalah penggeraknya. 

Ketika amanah menjadi tali pengikat satu-satunya untuk mempertahankan eksistensi dalam dakwah di PRISMA. Karena merasa tidak nyaman lagi dengan saudaranya, kemudian mulai bosan dan ingin memisahkan diri, seharusnya ini segera dilihat oleh seseorang di antara kita. Agar tidak timbul kalimat-kalimat, 'ah saya bosan. pokoknya saya mau selesaikan amanah ini, setelah itu pergi dari tim ini.' atau 'Saya tidak bermanfaat lagi di sini, mungkin di luar sana ada ladang dakwah yang lebih butuh saya.' ; halooow.. tidakkah merasa malu, pergi tanpa hasil karena bekerjanya tidak sepenuh hati?? Nah, untuk meminimalisir itu, coba cek pribadi kita masing-masing, lebih perhatian lagi, perbaiki hubungan...tapi jangan sampai berlebihan sampai ada yang geer. Retakan itu pasti.... biasanya akibat merasa keluarga(terlalu), jadinya, bagaimanapun saya maka kamu harus mengerti, mau positif atau negatif tidak boleh putus asa menghadapi saya. Dan...kebanyakan orang putus asa..hahaha...Tetaplah berbenah diri; Inilah cara Allah menjaga ukhuwah kita - yang berlandaskan kecintaan kepada Allah, tanggung jawab terhadap umat- agar tetap sehat, dalam artian, ukhuwah kita ini murni karena kesamaan visi dan misi, menegakkan syari'at islam tidak hanya di luar tetapi juga di dalam. Bukan untuk dipuji manusia, atau untuk mencari pasangan. keep husnuzon.

Kita tau, semua orang mempunyai karakter, kebiasaan, pola pemikiran, minat dan kemapuan yang berbeda-beda satu sama lain. Makanya, selama ini kita terbiasa mengungkapkan apa yang tidak kita sukai (ceplas ceplos)... juga mengkritik secara halus, bahkan saling mencibir satu sama lain padahal semuanya punya masalah kepribadian yang harus diubah. Tabayyun harus kita budayakan di sini.

Pesan untuk tim PRISMA:
Jagalah saudara kita dari maksiat, dan bantulah perbaiki dirinya, beritau kelemahan yang harus diperbaikinya. Jaga hak-haknya, selipkan doa untuk kebaikannya, dan berbuat adil lah terhadap semuanya ^_^





Tidak ada komentar:

Posting Komentar