Rabu, 16 Oktober 2013

renungan

Ku cari dan ku perhatikan dengan sangat tenang
yang terdengar hanya denyut jantungku senidiri
pekak, semakin kudengar semakin mencekam..
Detaknya membawaku pergi
ke alam yang entah apa dan di mana
semakin keras, semakin membuat takut nuraniku
siapa? dimana? bagaimana atau apa?
aku terus bertanya pertanyaan yang memecah airmataku
tak ada batas waktu di akhirat?
gila.. jika aku teruskan akan membuatku gila
ah aku menangis saja pada Nya
Allah pencipta bumi dan langit
Ia pula ciptakan kesunyian yang bising ini
aku diciptakan Nya, menjadi hamba kepada Nya
aku hidup dan mati atas izin Nya
tiada satupun aktivitas yang baik kulakukan
selain mengesakan Nya.. hanya Dia..
namun, percayakah aku?
niscaya orang-orang yang beriman
mengetahui bahwa yang benar itu dari Tuhannya..
masih dalam keheningan
semakin tak peduli aku pada airmata ini
yang membasahi wajah sampai dagu dan jatuh ke tanah
keras-keras dalam hatiku hingga terucap di lisan ku..
tak tahan lagi.. aku takut sekali
tersungkurlah raga, bersujud pada Nya
ampuni hamba ya Rabb..
jangan sesatkan hamba..

Kamis, 03 Oktober 2013

coretan pedas

Bismillah.. Semoga Ia izinkan mu membaca ini

Untuk saudara - saudaraku yang teramat aku sayang,
ingatkah engkau ketika pertama kali melihatku bergabung dalam dakwah ini..
ingatkah engkau ketika pertama kali menyadari kehadiranku bak bala bantuan untukmu..
ingatkah engkau ketika pertama kali mengagumi diriku yang tidak seburuk hari ini..
ingatkah engkau semua pujian manis, yang sebenarnya begitu menyinggung bagiku..?

Katamu begini dan begitu tentang ku..
katamu aku mampu melawan ketidakberdayaanku
katamu aku bahkan bisa memotivasi
katamu aku hanya perlu percaya diri
percaya pada diri siapa?
tidak ada yang dapat ku percaya dari diriku

Ada kesan yang tersimpan rapih di benakku..
ingat tidak, regenerasi dakwah ini, katamu hanya aku yang kau percaya..
tapi tahu kah kau, itu meningatkan pada masa dakwahku yang gagal..
karena ketakutanku lebih besar dari yang terlihat
tak apa bila aku ulang lagi langkah, asal bersama mu..

kini, telah ada yang menurut kita dia pantas dipercaya
menurutmu ia lebih segalanya dariku, aku setuju..
mengalahkan ku, mengapa harus merasa kalah?
tampilnya ia justru kebahagiaan untukku..
Segala puji bagi Allah, yang menjadikanku pijakan..

Ukhtiku.. Aku lihat bagaimana engkau tumbuh..
Meskipun dinding pemisah antara kita begitu kuat
aku yakin, akan ada masa kita saling terbuka..
ingatkah kau pernah menyinggung menyebutku selalu senyum?
ya itu dirimu..

kini engkau pemain banyak peran..
menurutku itu caramu menyambut ilmu
kau adalah pembelajar sejati..
bisakah kita terus saling mencari, aku tak tahu
Allahu a'lam

Kau yang pernah asing namun berada dekat denganku
Saat itu kita mulai tarbiyah islam bersama..
hanya sebentar, kita berpisah.. kemudian bertemu lagi di jalan dakwah ini
bagiku, kau kakak saat yang lain tak peduli
bagiku, tak ada yang tulus sepertimu

ingatkah, suatu ketika seseorang yang merepotkan kita
semua orang menaruh kesal padanya, namun itu tak menjebak prasangka baikmu
kau memang yang terbaik..
makanya, betapa ingin ku perkenalkan engkau pada guruku
agar sempurna akhlaq mu terarah oleh syari'at

Sadar waktu tak banyak lagi tersisa untuk kita bersama,
maka ku harap berikanlah maaf atas kebodohan dan kekurangan ku
yang selama ini sangat tidak kita inginkan..

Saudaraku..
uhibbukum fillah

Jumat, 27 September 2013

27/09/13



Waktu demi waktu telah aku lalui..
Setiap hari, tak satu detik pun percuma bagiku
Pernah aku berteriak merengek pada Mu

Ketika nalarku menolak dirinya sendiri
Malu untuk ku ulangi kisahku sendiri
Meski itu pada Mu yang tiada rahasia dapat ku sembunyikan
Belum lagi ku bicara mengakui cacat perangaiku,
Airmata justru deras mengarus..
Menyalahkan Mu, apa boleh buat? aku malu

Ketika tak sadar mungkin aku mencari tandingan Mu
Kemana lagi ku harus meminta pertolongan
Jeli mataku, ku pasang telingaku dalam memburu dunia
Belum lagi ku dapat apa yang ku cari
Tubuh ini justru memaksaku meminta sepenuh hati kepada Mu
Hingga tiada ruang lagi di relung jiwaku, hanya Engkau..

Ketika kesusahan hampir merusak rasioku
Timbul kerinduan dalam kepalaku, tentang Engkau
Oh.. Engkau yang Maha Penyayang
Belum lagi ku tergelung ombak kehancuran
Rahmat Mu justru hadir, memaksaku ikhlas menerima diriku
Hingga senyum itu berseru takbir kepada Mu..

Setiap waktu berharga bagiku,                 
setiap hari adalah ilmu untukku
setiap ilmu adalah bersama Mu

Allaahu akbar... 

Senin, 23 September 2013

Cerita seputar mentoring PRISMA

Pertanyaan polos Aisyah saat ada teman baru yang bergabung di grup mentoringnya.

PRISMA Al Ikhlas dan kelompok-kelompok kecilnya. PRISMA adalah sebuah organisasi remaja islam yang berada dilingkungan sekitar RW di mana masjid Al Ikhlas berdiri. Dalam organisasi yang terbentuk sejak 3 tahun lalu ini, ada sebuah program pembinaan yang disebut mentoring, yakni para anggota PRSIMA dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk kemudian dibina oleh seorang mentor.

Minggu malam, salahsatu kelompok duduk bersama dalam kegiatan rutin mentoring. Seperti biasa sebelum dimulai, semua anggota memulainya dengan bercanda dan curhat. Malam itu, mentor mengajak serta sepupunya -sedang berkunjung dan menginap di rumahnya- untuk mentoring. Tidak ada yang istimewa dari anak yang baru pertama kali dilihat oleh anggota mentoring ini, namun anak yang terlihat santun dengan pakaian yang menutup aurat ini, sebuta saja Fulanah memperkenalkan diri sebagai tamu dari kota metropolitan Jakarta, membuat para anggota mentoring yang lain dan Aisyah -salah satu anggota lama- penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh. Mulai dari menanyakan alamat facebook, twitter, hubungannya dengan sang mentor, hingga kehidupan pribadinya.

Aisyah, yang merupakan seorang menti yang lahir dari keluarga Ikhwan ini, dengan mimik wajah yang penasaran bertanya kepada Fulanah "Kakak sekolahnya pesantren ya?"

Fulanah pun menjawabnya enteng "Emh..Bukan.." melempar senyum

"SDIT ya? (maksudnya SMPIT. Yang mau ditanyakan adalah SMP Islam atau Negri)"

Karena bingung dengan pertanyaan Aisyah, Fulanah pun menjawab seadanya "saya di sekolah swasta."

"SDIT berarti. Sudah hafal berapa juz?" Sambut Aisyah polos

"Hah?" terkejut dan bengong

Aisyah pun mengulangi pertanyaannya dengan wajah yang antusias "Sudah hafal al qur'an berapa juz?"

"Hehe.. berapa yah, berapa ajalah.." sambil melirik kakak sepupunya sambil tertawa malu

Mentor Aisyah yang juga kakak sepupu dari Fulanah, melihat sikap kedua adiknya yang lucu itu hanya tertawa dan berdoa, "Ya Allah, terimakasih Engkau izinkan aku bertemu dengan Aisyah untuk menjadi guru kecilku, dan Engkau titipkan Fulanah padaku hari ini, semoga Engkau rahmati kami dan limpahkan hidayah kepada kami melalui perjumpaan ini. Aamiin.."




Dari kisah di atas, ada beberapa hikmah yang dapat kita petik

1. Sikap husnuzon Aisyah, bisa kita tebak, bagaimana Aisyah menjalani hari-harinya. Berlomba-lomba dalam kebaikan dengan para penghafal qur'an.

2. Sikap dewasa Aisyah yang tidak menyudutkan Fulanah dengan pertanyaan yang sama, seolah dia tau bahwa Fulanah bukan penghafal Qur'an, karena itu akan membuat Fulanah tersinggung.

3. Contoh nyata anak-anak yang dibesarkan di lingkungan yang berbeda, akan menghasilkan anak yang berbeda pula.

4. Bahwa iman tak dapat diwariskan meski berasal dari satu darah.

5. Alasan bagi kita para orangtua untuk mendidik anak-anak kita dengan al Qur'an dan Sunnah. Aisyah dengan kepolosan dan kedewasaannya tentu tidak didapat dengan instan.

Sederhana tapi kutipan(jika tidak bisa disebut kisah) ini inspiratif bagi penulis. Sekecil apapun, semoga ada manfaatnya bagi pembaca.

23/9/13

Jumat, 13 September 2013

Senin, 09 September 2013

Dinamika Jihad di PRISMA "Ketika amanah menjadi tali satu-satunya"

"Wajihah (tempat aktifis menjabat) hanya wasilah (alat) dalam dakwah, bukan kiblat atau tujuan." Nasihat berharga dari seorang temanku ini mengantarku pada pemikiran yang lebih jauh tentang dakwah. Dengan mengembalikan posisinya-dakwah-pada tempat yang seharusnya. Bahwa dakwah adalah tentang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, bahwa dakwah adalah attoriq ila ttaqwa, bahwa dakwah adalah kesungguhan memperjuangkan kebenaran, bahwa dakwah adalah keteguhan menegakkan kalimat LAA ILAHA ILLALLAH.

Bertahun sudah kita lalui banyak peristiwa bersama di PRISMA, dengan macam-macam perasaan mewarnai kisahnya. Hingga terucap kata 'keluarga' di antara kita. Canda tawa dan gelisah kita rasakan bersama. Kenangan apapun, bagiku berkesan. Kadang kita bersikap manis, kadang menyebalkan, kadang saling menghujat tanpa sadar. Saking sayangnya (mungkin) sampai harus ada yang menangis karena di-bully atau karena sikap-sikap yang kita sama ratakan (tanpa pandang gender). Yaa itulah keluarga. Hehehe..

Keluarga yang seperti teman atau teman yang seperti keluarga. Teman yang seperti keluarga biasanya selalu ada untuk temannya, mengerti dan memahami karakter temannya, berusaha menjadikan keluarganya (sorry, temannya) lebih baik, menjadi rumah yang dengannya kita merasa nyaman ketika pulang. Atau keluarga yang seperti teman, layaknya teman, menemani, mendengarkan, dan peduli. Itu ada dalam ukhuwah kita. Ukhuwah yang sempurna..

Saat yang paling ku hindari, adalah ketika amanah menjadi tali satu-satunya untuk kita berjuang bersama. Di mana ukhuwah seperti menghilang. Jika memburu cinta level tertinggi -cinta Allah dan Rosul-Nya, dan jihad fisabilillah- adalah tujuan, maka ukhuwah adalah bahan bakarnya, dan kitalah penggeraknya. 

Ketika amanah menjadi tali pengikat satu-satunya untuk mempertahankan eksistensi dalam dakwah di PRISMA. Karena merasa tidak nyaman lagi dengan saudaranya, kemudian mulai bosan dan ingin memisahkan diri, seharusnya ini segera dilihat oleh seseorang di antara kita. Agar tidak timbul kalimat-kalimat, 'ah saya bosan. pokoknya saya mau selesaikan amanah ini, setelah itu pergi dari tim ini.' atau 'Saya tidak bermanfaat lagi di sini, mungkin di luar sana ada ladang dakwah yang lebih butuh saya.' ; halooow.. tidakkah merasa malu, pergi tanpa hasil karena bekerjanya tidak sepenuh hati?? Nah, untuk meminimalisir itu, coba cek pribadi kita masing-masing, lebih perhatian lagi, perbaiki hubungan...tapi jangan sampai berlebihan sampai ada yang geer. Retakan itu pasti.... biasanya akibat merasa keluarga(terlalu), jadinya, bagaimanapun saya maka kamu harus mengerti, mau positif atau negatif tidak boleh putus asa menghadapi saya. Dan...kebanyakan orang putus asa..hahaha...Tetaplah berbenah diri; Inilah cara Allah menjaga ukhuwah kita - yang berlandaskan kecintaan kepada Allah, tanggung jawab terhadap umat- agar tetap sehat, dalam artian, ukhuwah kita ini murni karena kesamaan visi dan misi, menegakkan syari'at islam tidak hanya di luar tetapi juga di dalam. Bukan untuk dipuji manusia, atau untuk mencari pasangan. keep husnuzon.

Kita tau, semua orang mempunyai karakter, kebiasaan, pola pemikiran, minat dan kemapuan yang berbeda-beda satu sama lain. Makanya, selama ini kita terbiasa mengungkapkan apa yang tidak kita sukai (ceplas ceplos)... juga mengkritik secara halus, bahkan saling mencibir satu sama lain padahal semuanya punya masalah kepribadian yang harus diubah. Tabayyun harus kita budayakan di sini.

Pesan untuk tim PRISMA:
Jagalah saudara kita dari maksiat, dan bantulah perbaiki dirinya, beritau kelemahan yang harus diperbaikinya. Jaga hak-haknya, selipkan doa untuk kebaikannya, dan berbuat adil lah terhadap semuanya ^_^





Selasa, 03 September 2013

Inspirasi Jilbab

JILBAB.....sebenarnya, jilbab berarti baju kurung (baca: kain yang menutup dari leher sampai kaki). Entah bagaimana awalnya sehingga di Indonesia menyamakan jilbab dengan kerudung. Kerudung sendiri adalah kain penutup kepala, yang kalau menurut syari'at Islam adalah kain yang menutup kepala (kecuali muka) sampai dada. Kok tau?? ya, dulu waktu penulis kelas dua SMP pernah ikut pesantren kilat di masjid dekat rumah, ustadznya yang kasih tau..heheh

Dari kecil penulis memang suka berdandan ala anak pesantren. Sejak SD kelas empat, penulis sudah jadi guru les untuk anak tetangga. Karena merasa sebagai ibu guru, maka penulis pun memakai kerudung setiap mengajar, even, baju yang penulis pakai adalah baju tanpa lengan. Namanya juga anak-anak...

Penulis bukanlah dari lingkungan muslim yang taat, bukan juga anak keluarga yang menerapkan ajaran Islam dengan utuh. Pendidikan agama yang wajib penulis dan orang-orang sana pahami adalah mampu membaca al-qur'an. Paradigma di masyarakat sana, muslim (hanya) wajib mampu membaca al-qur'an, sedangkan sholat dan kewajiban yang lain hanya bagi para ustadz. Ayah penulis adalah lulusan PGA (Pendidikan Guru Agama), cukup paham agama, dan ibu penulis juga seorang pembelajar yang juga baik pemahaman agamanya, sehingga di keluarga kami sholat merupakan ibadah yang mutlak. Namun, hanya sekedar itu, menutup aurat bagi perempuan masih dianggap tabuh, kecuali kalau Anda memang berasal dari pesantren. Sampai akhirnya sebelas tahun yang lalu penulis sekeluarga hijrah ke kota Tangerang 'budaya akhlakul karimah', heheh, titik balik pun dimulai.

Penulis Mulai menutup aurat sejak kelas dua SMP. Ya, setelah mengikuti pesantren kilat yang ustadznya ceramah tentang jilbab. Di sana, peserta yang kebanyakan remaja perempuan, diambil sumpah untuk memakai kerudung sesuai petunjuk Islam. Kurang lebih isinya begini "Bismillahirrahmanirrahiim. Saya bersumpah, mulai sekarang saya akan memakai kerudung kapanpun dan dimana pun karena Allah ta'ala.", di ucapkan secara bersama-sama mengikuti ucapan sang ustadz. Sayangnya, hanya sebagian peserta mengerti dan menepati sumpahnya.
Walaupun masih sangat muda, keputusan memakai kerudung itu penulis ambil berdasakan beberapa pertimbangan, di antaranya karena, kata ustadz "Wanita yang sudah baligh wajib menutup aurat...dan muslimah dikenali dari pakaiannya....." Pokoknya wajib berjilbab, lalu cita-cita penulis yang ingin jadi ibu guru yang sholehah, sisanya sekedar ikut-ikutan sekaligus menepati janji yang diucapkan di depan ustadz.
Mengenal jilbab sejak kecil, kini menjadi kebanggaan tersendiri bagi penulis, yang pada saat itu ibu penulis marah sekali. Mungkin ibu khawatir keinginan penulis untuk berjilbab hanya sementara. katanya "Dari pada bikin malu, nanti kalau sudah dewasa malah lepas kerudung.."Hahaha...sekarang penulis bisa tertawa, karena sudah tujuh tahun berlalu dan penulis tetap istiqomah, insyaAllah.

Proses adalah sebuah keharusan. Beberapa kali penulis harus menerima ujian mempertahankan berjilbab. Penolakan ibu, penulis anggap salah satu dari ujian ini, kemudian pakaian-pakaian mini membanjiri pasar dan sebagai remaja awal otak seperti diracuni dengan banyaknya opini bahwa jilbab bukan penghalang untuk tampil modis. Pada dasarnya penulis adalah tipe wanita yang tidak suka bergaya karena tidak suka menjadi pusat perhatian. Tapi ibu.. Baju-baju lengan pendek harus tetap penulis pakai dengan jeans yang relatif ketat, tambahan manset tangan, serta kerudung mini yang panjangnya hanya cukup untuk menutupi leher, akhirnya satu demi satu pakaian itu penulis sumbangkan. Mulailah beli baju atasan muslim, meski dipasangkan dengan jeans, setidaknya bisa menutup sampai paha. Lalu muncul lagi kerudung dililitkan keleher, mini-dress dan baju manset serta leging sebagai busana muslimah modis. Tahun-tahun pertama berjilbab, busana seperti ini sedang trend. Haduuuh....bertahun-tahun penulis hidup di eranya Eren Kangen Band itu, penulis kemudian terjun ke lembah yang lebih mengerikan (but it's fun), dunia taekwondo, dimana tidak ada perbedaan gender yang kentara, sampai bingung mana laki-laki mana perempuan. Penulis yang notabene sudah berjilbab ini ikut menjadi tomboy, namun masih dalam batas yang wajar (pembelaan). Masih berjilbab tapi juga ekspresif tak peduli image, berada di lingkungan yang menyenangkan namun tanpa hijab antara laki-laki dan perempuan itu berat bagi seorang muslimah.

Ujian yang paling menyakitkan penulis adalah beredarnya fitnah. Empat tahun lalu, penulis menerima banyak sindiran menyakitkan dari tetangga. Tapi karena aktivitas yang segudang menyebabkan penulis kurang menyadarinya. Padahal gelagat ibu yang selalu berpesan supaya penulis tetap menjaga sikap di manapun berada, seharunya cukup untuk menyadarkan penulis bahwa sesuatu tengah terjadi. Kata ibu saat beliau sudah tidak tahan dan jatuh sakit, "Nak,kerjaan kamu apa di luar? Kok tetangga pada bilang kerudung tidak menjamin pribadi seseorang. Pake kerudung tapi kelakuannya bejat. Jelas itu sindiran buat kamu. Di sekitar sini cuma kamu yang berjilbab." Because of that, I know what I have to do. Jadilah penulis mengurangi aktifitas dan sesekali berbaur dengan tetangga. "Kamu jalan sama siapa sekarang? seseorang pernah bilang, dia liat kamu di pantai sama pacar, pegangan tangan pula." Kata seorang temanku. "What?? Aku nggak pernah...". Ooh..Finally, I got the answer!. Alhamdulillah.. penulis jelaskan ke Ibu, dan beliau mengerti bahwa itu hanya fitnah dan lega perasaannya. Seiring waktu berjalan, fitnah itu sirna dengan pembuktian terhadap masyarakat. Kebiasaan masyarakat kita nih yang tidak mau ambil pusing mencari kebenaran, menyebabkan banyaknya korban fitnah.

Metamorfosis hijab.... itu penulis anggap proses secara bertahap.
Jeans-kaos dan manset-jilbab seleher.......jeans-kaos panjang-jilbab seleher...........jeans-atasan muslim-jilbab seleher...........jeans-atasan muslim-jilbab seperut- kaos kaki............gaun panjang-jilbab seleher(supaya modis di mata ibu)...........rok-kaos dan manset-jilbab seperut...............gaun panjang-jilbab menutupi dada, sesekali memakai kaos kaki........sekarang alhamdulillah, ibu adalah pendukung nomor satu yang penulis miliki, dibuktikan dengan membeli gamis bukan gaun untuk penulis, dan memperhatikan tiga hal dalam pakaian penulis, yaitu kebersihan, ketebalan dan tidak terlalu membentuk tubuh. Bahkan, kemanapun pergi, oleh-oleh yang ibu sering bawakan adalah gamis dan rok panjang. Yang perlu diingat-ingat adalah metamorfosis itu memakan waktu hampir tujuh tahun.


Jilbab di badan adalah proses men-jilbab hati. Banyak sekali orang-orang yang mencibir penulis. Katanya, kerudungan tapi kelakuannya buruk, makanya jilbabin hati dulu,Mbak.!! sambil marah-marah ke penulis, masya Allah.. :D ........iya sih penulis sadar, dulu, bahkan masih sampai sekarang, penulis masih harus memperbaiki akhlaq (perbuatan/kelakuan). Dan penulis siap untuk lebih baik setiap hari, insya Allah. Kalau pun penulis bersikap buruk, itu membuktikan bahwa penulis adalah ORANG, bukan makhluq GHAIB..malaikat misalnya :D .... Ya itu lah manusia, selalu ada celahnya, yang penting berusaha berbuat baik, dan memperbaiki diri. Coba pikir, kalau saja dulu penulis coba-coba buka kerudung, mungkin sekarang penulis tetap menjadi roker yaa..

Kamis, 29 Agustus 2013

Ukhti...ukhti...

Ukhti... Lihatlah ia yang disana...
Dia adalah ikhwan yang selalu menjaga pandangannya, dan menjaga izzah-nya
insya Allah. Tak ada hari baginya tanpa dzikir dan lantunan ayat suci. Ia mendatangi teman-temannya yang sholih dan penyayang di kala ia butuh tawa untuk menyegarkan dirinya. Ia tak pernah berhenti untuk dakwah, meski pahit kadang harus ditelannya. Tutur katanya tak terbantahkan, adabnya aman dari cela, candanya yang halus penuh berisi ilmu. Kearifannya tersebar dalam bait-bait mutiara yang ia ucapkan. Pribadinya santun beriringan dengan semangat yang terarah dalam cahaya-Nya.

Ukhti... ukhti itu pasti sangat pintar..
Cerdas dan juga mempesona....sama seperti dia, kekasihmu....

Ukhti... ukthi adalah kawan yang baik, manja, dan patuh padanya..
Tiada keluh saat menunggunya pulang..

Ukhti pasti ingat kisah Fathimah radhiyallahu anh,
tantang bagaimana ia menjadi wanita kebanggaan keluarganya dan umat...ikutilah ia...

Ukhti, hijabmu pertanda penjagaan dirimu..penjagaan atas iffah dan izzahmu...

anak-anakmu juga kau didik dengan kasihsayang...
kau bimbing dengan al qur'an dan sunnah....
Ukhti...dirimu yang anggun dan shalihah
Ssstt..barakallahu lakuma..hihiks