JILBAB.....sebenarnya, jilbab berarti baju kurung (baca: kain yang menutup dari leher sampai kaki). Entah bagaimana awalnya sehingga di Indonesia menyamakan jilbab dengan kerudung. Kerudung sendiri adalah kain penutup kepala, yang kalau menurut syari'at Islam adalah kain yang menutup kepala (kecuali muka) sampai dada. Kok tau?? ya, dulu waktu penulis kelas dua SMP pernah ikut pesantren kilat di masjid dekat rumah, ustadznya yang kasih tau..heheh
Dari kecil penulis memang suka berdandan ala anak pesantren. Sejak SD kelas empat, penulis sudah jadi guru les untuk anak tetangga. Karena merasa sebagai ibu guru, maka penulis pun memakai kerudung setiap mengajar, even, baju yang penulis pakai adalah baju tanpa lengan. Namanya juga anak-anak...
Penulis bukanlah dari lingkungan muslim yang taat, bukan juga anak keluarga yang menerapkan ajaran Islam dengan utuh. Pendidikan agama yang wajib penulis dan orang-orang sana pahami adalah mampu membaca al-qur'an. Paradigma di masyarakat sana, muslim (hanya) wajib mampu membaca al-qur'an, sedangkan sholat dan kewajiban yang lain hanya bagi para ustadz. Ayah penulis adalah lulusan PGA (Pendidikan Guru Agama), cukup paham agama, dan ibu penulis juga seorang pembelajar yang juga baik pemahaman agamanya, sehingga di keluarga kami sholat merupakan ibadah yang mutlak. Namun, hanya sekedar itu, menutup aurat bagi perempuan masih dianggap tabuh, kecuali kalau Anda memang berasal dari pesantren. Sampai akhirnya sebelas tahun yang lalu penulis sekeluarga hijrah ke kota Tangerang 'budaya akhlakul karimah', heheh, titik balik pun dimulai.
Penulis Mulai menutup aurat sejak kelas dua SMP. Ya, setelah mengikuti pesantren kilat yang ustadznya ceramah tentang jilbab. Di sana, peserta yang kebanyakan remaja perempuan, diambil sumpah untuk memakai kerudung sesuai petunjuk Islam. Kurang lebih isinya begini "Bismillahirrahmanirrahiim. Saya bersumpah, mulai sekarang saya akan memakai kerudung kapanpun dan dimana pun karena Allah ta'ala.", di ucapkan secara bersama-sama mengikuti ucapan sang ustadz. Sayangnya, hanya sebagian peserta mengerti dan menepati sumpahnya.
Walaupun masih sangat muda, keputusan memakai kerudung itu penulis ambil berdasakan beberapa pertimbangan, di antaranya karena, kata ustadz "Wanita yang sudah baligh wajib menutup aurat...dan muslimah dikenali dari pakaiannya....." Pokoknya wajib berjilbab, lalu cita-cita penulis yang ingin jadi ibu guru yang sholehah, sisanya sekedar ikut-ikutan sekaligus menepati janji yang diucapkan di depan ustadz.
Mengenal jilbab sejak kecil, kini menjadi kebanggaan tersendiri bagi penulis, yang pada saat itu ibu penulis marah sekali. Mungkin ibu khawatir keinginan penulis untuk berjilbab hanya sementara. katanya "Dari pada bikin malu, nanti kalau sudah dewasa malah lepas kerudung.."Hahaha...sekarang penulis bisa tertawa, karena sudah tujuh tahun berlalu dan penulis tetap istiqomah, insyaAllah.
Proses adalah sebuah keharusan. Beberapa kali penulis harus menerima ujian mempertahankan berjilbab. Penolakan ibu, penulis anggap salah satu dari ujian ini, kemudian pakaian-pakaian mini membanjiri pasar dan sebagai remaja awal otak seperti diracuni dengan banyaknya opini bahwa jilbab bukan penghalang untuk tampil modis. Pada dasarnya penulis adalah tipe wanita yang tidak suka bergaya karena tidak suka menjadi pusat perhatian. Tapi ibu.. Baju-baju lengan pendek harus tetap penulis pakai dengan jeans yang relatif ketat, tambahan manset tangan, serta kerudung mini yang panjangnya hanya cukup untuk menutupi leher, akhirnya satu demi satu pakaian itu penulis sumbangkan. Mulailah beli baju atasan muslim, meski dipasangkan dengan jeans, setidaknya bisa menutup sampai paha. Lalu muncul lagi kerudung dililitkan keleher, mini-dress dan baju manset serta leging sebagai busana muslimah modis. Tahun-tahun pertama berjilbab, busana seperti ini sedang trend. Haduuuh....bertahun-tahun penulis hidup di eranya Eren Kangen Band itu, penulis kemudian terjun ke lembah yang lebih mengerikan (but it's fun), dunia taekwondo, dimana tidak ada perbedaan gender yang kentara, sampai bingung mana laki-laki mana perempuan. Penulis yang notabene sudah berjilbab ini ikut menjadi tomboy, namun masih dalam batas yang wajar (pembelaan). Masih berjilbab tapi juga ekspresif tak peduli image, berada di lingkungan yang menyenangkan namun tanpa hijab antara laki-laki dan perempuan itu berat bagi seorang muslimah.
Ujian yang paling menyakitkan penulis adalah beredarnya fitnah. Empat tahun lalu, penulis menerima banyak sindiran menyakitkan dari tetangga. Tapi karena aktivitas yang segudang menyebabkan penulis kurang menyadarinya. Padahal gelagat ibu yang selalu berpesan supaya penulis tetap menjaga sikap di manapun berada, seharunya cukup untuk menyadarkan penulis bahwa sesuatu tengah terjadi. Kata ibu saat beliau sudah tidak tahan dan jatuh sakit, "Nak,kerjaan kamu apa di luar? Kok tetangga pada bilang kerudung tidak menjamin pribadi seseorang. Pake kerudung tapi kelakuannya bejat. Jelas itu sindiran buat kamu. Di sekitar sini cuma kamu yang berjilbab." Because of that, I know what I have to do. Jadilah penulis mengurangi aktifitas dan sesekali berbaur dengan tetangga. "Kamu jalan sama siapa sekarang? seseorang pernah bilang, dia liat kamu di pantai sama pacar, pegangan tangan pula." Kata seorang temanku. "What?? Aku nggak pernah...". Ooh..Finally, I got the answer!. Alhamdulillah.. penulis jelaskan ke Ibu, dan beliau mengerti bahwa itu hanya fitnah dan lega perasaannya. Seiring waktu berjalan, fitnah itu sirna dengan pembuktian terhadap masyarakat. Kebiasaan masyarakat kita nih yang tidak mau ambil pusing mencari kebenaran, menyebabkan banyaknya korban fitnah.
Metamorfosis hijab.... itu penulis anggap proses secara bertahap.
Jeans-kaos dan manset-jilbab seleher.......jeans-kaos panjang-jilbab seleher...........jeans-atasan muslim-jilbab seleher...........jeans-atasan muslim-jilbab seperut- kaos kaki............gaun panjang-jilbab seleher(supaya modis di mata ibu)...........rok-kaos dan manset-jilbab seperut...............gaun panjang-jilbab menutupi dada, sesekali memakai kaos kaki........sekarang alhamdulillah, ibu adalah pendukung nomor satu yang penulis miliki, dibuktikan dengan membeli gamis bukan gaun untuk penulis, dan memperhatikan tiga hal dalam pakaian penulis, yaitu kebersihan, ketebalan dan tidak terlalu membentuk tubuh. Bahkan, kemanapun pergi, oleh-oleh yang ibu sering bawakan adalah gamis dan rok panjang. Yang perlu diingat-ingat adalah metamorfosis itu memakan waktu hampir tujuh tahun.
Jilbab di badan adalah proses men-jilbab hati. Banyak
sekali orang-orang yang mencibir penulis. Katanya, kerudungan tapi
kelakuannya buruk, makanya jilbabin hati dulu,Mbak.!! sambil marah-marah
ke penulis, masya Allah.. :D ........iya sih penulis sadar, dulu,
bahkan masih sampai sekarang, penulis masih harus memperbaiki akhlaq
(perbuatan/kelakuan). Dan penulis siap untuk lebih baik setiap hari,
insya Allah. Kalau pun penulis bersikap buruk, itu membuktikan bahwa
penulis adalah ORANG, bukan makhluq GHAIB..malaikat misalnya :D .... Ya
itu lah manusia, selalu ada celahnya, yang penting berusaha berbuat
baik, dan memperbaiki diri. Coba pikir, kalau saja dulu penulis
coba-coba buka kerudung, mungkin sekarang penulis tetap menjadi roker
yaa..